Chang Sheuw Tian Ran Ling YaoObat Herbal Terstandar

Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao (CSTRLY) merupakan obat herbal untuk membantu meningkatkan kondisi kesehatan pada penderita kanker. Bahan baku obat 100% merupakan tumbuh-tumbuhan yang diperoleh dari pedalaman provinsi Yunan, Tiongkok. Kombinasi antara bahan alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, obat herbal Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao telah diakui masyarakat secara luas sejak tahun 1986. Obat tersebut telah diuji secara ilmiah di Fakultas Farmasi UGM Yogyakarta yang meliputi uji ketoksikan dan uji khasiat.

Sistem Adaptogen

Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao bekerja dengan sistem adaptogen yaitu mampu menormalkan fungsi organ, metabolisme, hormon dan jaringan tubuh tanpa menimbulkan efek samping. Juga meningkatkan vitalitas dan kualitas keempat fungsi tersebut, sehingga terjadi keseimbangan dalam tubuh yang pada akhirnya tubuh akan menjadi sehat dan kuat.

Hipotesa Obat Herbal Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao (CSTRLY)

  1. Sebagai zat antiproliferasi, dengan jalan menghambat aktivasi dari Proteinkinase C (PKC) (Edy Meiyanto, 1999).
  2. Inhibitor Cyclooxygenase (COX), maka produksi prostanoid yang berlebih akan dicegah dan mencegah proliferasi.
  3. Sebagai pemicu apoptosis yang merangsang kematian sel dimana pada sel kanker proses apoptosis mengalami gangguan sehingga sel mengalami metastasis (Peter et.al.1997 cit Edy Meiyanto).

Indikasi

  • Membantu meningkatkan kondisi kesehatan pada penderita kanker.
  • Mengurangi efek samping kemoterapi.
  • Menormalkan fungsi organ, metabolisme, hormon dan jaringan tubuh.
  • Menjaga kesehatan jangka panjang (terutama ex penderita kanker).

Hasil Uji

Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao Telah Diuji Di :

A. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada , Yogyakarta, 2002.

Pengujian Meliputi :

  1. Uji Ketoksikan Akut
  2. Uji Terhadap Pertumbuhan Tumor Paru

I. Uji Ketoksikan Akut

Hasil pemeriksaan fisik (purata kenaikan berat badan per hari = ADG) dan gejala-gejala toksik selama 14 hari terhadap tikus akibat pemberian suspensi kapsul Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao.

Hasil Uji Ketoksikan :

  • Purata ADG tikus jantan dan betina kelompok II – V bila dibandingkan kelompok I sebagian besar menunjukkan perbedaan tidak bermakna (P > 0.05)
  • Pemberian dosis 20 – 12.500 mg/kgBB tidak mempengaruhi perkembangan berat badan
  • Tidak ada gejala toksik yang teramati
Kelompok Perlakuan p.o, mg/KgBB) Kelamin n X + KB ADG (g/hari) Gejala Toksik
I PVP 10% (12500) Jantan 5 3,85 + 0,15 -
Betina 5 1,93 + 0,02 -
II DT (20) Jantan 5 3,85 + 0,15 -
Betina 5 1,93 + 0,02 -
III DT (180) Jantan 5 3,85 + 0,15 -
Betina 5 1,93 + 0,02 -
IV DT (1462) Jantan 5 3,85 + 0,15 -
Betina 5 1,93 + 0,02 -
V DT (12500) Jantan 5 3,85 + 0,15 -
Betina 5 1,93 + 0,02 -

II. Uji Penghambatan Terhadap Pertumbuhan Tumor Paru

Penghambatan Terhadap Pertumbuhan Tumor Paru Pada Tikus Yang diinduksi dengan Dimethylbenz [a] Antrazene (DMBA)

Hasil Uji Efek Penghambatan Terhadap Pertumbuhan Tumor Paru Pada Tikus

  • Perlakuan inisiasi dosis I mampu menurunkan prosentase tikus yang terkena nodul tumor paru-paru sebesar 25%, dengan prosentase penghambatan terhadap tumor paru-paru sebesar 50%.
  • Inisiasi dosis II mampu menurunkan prosentase tikus yang terkena nodul tumor paru-paru sebesar 41,7%, dengan prosentase penghambatan terhadap tumor paru-paru sebesar 83,4%.
  • Post Inisiasi dosis I mampu menurunkan prosentase tikus yang terkena nodul tumor paru-paru sebesar 38,9%, dengan prosentase penghambatan terhadap tumor paru-paru sebesar 77,8%.
  • Post Inisiasi dosis II mampu menurunkan prosentase tikus yang terkena nodul tumor paru-paru sebesar 40%, dengan prosentase penghambatan terhadap tumor paru-paru sebesar 80%.
  • Post Inisiasi dosis III mampu menurunkan prosentase tikus yang terkena nodul tumor paru-paru sebesar 25%, dengan prosentase penghambatan terhadap tumor paru-paru sebesar 50%.
Kelompok Perlakuan Jumlah Tikus (ekor) Jumlah Tikus Terkena Tumor Paru (ekor) Rata-rata Nodul Paru (%) Persentasi Kejadian Tumor Paru (%) Persentase Penghambatan (%)
Kontrol Minyak Jagung 10 0 0,00 0,0 -
Kontrol DMBA 10 5 2,00 50,0 -
Inisiasi DMBA Obat Dosis I 12 3 1,67 25,0 50,0
Inisiasi DMBA Obat Dosis II 12 1 2,00 8,3 83,4
Post Inisiasi DMBA Obat Dosis I 9 1 1,00 11,1 77,8
Post Inisiasi DMBA Obat Dosis II 10 1 7,00 10,0 80,0
Post Inisiasi DMBA Obat Dosis III 12 3 1,67 25,0 50,0

Keterangan:
Dosis I : 450 mg/kg berat badan
Dosis II : 750 mg/kg berat badan
Dosis III : 1500 mg/kg berat badan

B. Laboratorium Kultur Jaringan, Instalasi Penelitian dan Pengembangan, Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, 2006.

Pengujian Meliputi:

  • Sel Kanker Mulut Rahim (Casky)
  • Sel Kanker Kolon (HT-29)
  • Sel kanker Payudara (MCF-7)
  • Sel Kanker Mulut (BK Cell)

Korelasi antara Apoptosis Sel Kanker Mulut Rahim (Casky), Sel Kanker Kolon (HT-29), Sel kanker Payudara (MCF-7), serta Sel Kanker Mulut (BK Cell) dan Kosentrasi Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao.

Korelasi

Kesimpulan
  1. Ekstrak etanol Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao, secara invitro memiliki efek sitotoksik yang tinggi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker mulut rahim (casky), sel kanker kolon (HT-29) dan sel kanker mulut (KB), tetapi mempunyai efek sitotoksik yang rendah terhadap sel kanker payudara (MCF-7).
  2. Ekstrak etanol sediaan jadi kapsul Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao, secara invitro memiliki potensi yang tinggi dalam mempengaruhi proses apoptosis sel kanker mulut rahim (casky), sel kanker kolon (HT-29), sel kanker payudara (MCF-7), dan sel kanker mulut (KB).

Terbukti Aman

  • Ditetapkan sebagai Obat herbal terstandar oleh BPOM, dengan nomor registrasi POM. HT. 133 300 31.
  • Telah teruji secara ilmiah (lulus pengujian pra-klinis dan uji toksisitas akut di UGM Yogyakarta, 2002).
  • Telah mendapatkan sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) oleh Badan POM No. 0125/CPOTB/03/43/1/2010.
Komposisi
- Form Japonicus Franchet (Ophiogon Japonicus)
178,2 mg
- Pseudo Ginseng Radix
28,3 mg
- Ligustium Wallichii Franchet
54,2 mg
- Atractylodes Macrocephala Koidzumi
14,3 mg
Hal-hal yang perlu diperhatikan
  • Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao aman di lambung, sehingga dapat diminum sebelum makan (bila tidak ada riwayat gastritis).
  • Bila dikonsumsi bersama obat medis, sebaiknya diberi jarak 1 (satu) jam dan apabila dikombinasikan dengan kemoterapi, maka diberi jarak 2 (dua) jam, baik sesudah maupun sebelum kemoterapi.
  • Apabila pasien sedang di infus (infus obat), obat ini sebaiknya tidak diberikan (kecuali infus pengganti makanan).
  • Dosis pengobatan sebaiknya digunakan secara rutin dan tidak terputus sampai sembuh.
  • Setelah sembuh, dosis pengobatan tetap dilanjutkan 2 - 3 bulan, selanjutnya diturunkan secara bertahap sampai dosis pemeliharaan (konsultasikan lagi dengan kami).
  • Waktu pengobatan pada umumnya antara 3 - 8 bulan, tergantung dari penyakit atau stadiumnya (setiap individu berbeda masa penyembuhannya dan reaksi yang dirasakan satu sama lainnya).
  • Apabila dosis kurang tepat dapat mempengaruhi hasil pengobatan.
Kategori Keluhan Dosis
Penyakit Ringan Kista Rahim < 5cm 3x3
Pembengkakan Kelenjar Prostat 3x3
Hepatitis A (SGPT&SGOT tinggi) 3x3
Penurunan Fungsi Ginjal 3x3
Wasir Ringan 3x3
Penyakit Ringan Sedang Kista Rahim > 5 cm (kambuhan) 3x5
Endometriosis 3x5
Miom < 5 cm 3x5
Segala Jenis Tumor Jinak (< 7 cm) 3x5
Kanker Usus Stadium I-II A 3x5
Pembengkakan Kelenjar Tyroid 3x5
Pembengkakan Kelenjar Getah Bening 3x5
Pembengkakan Kelenjar Air Liur 3x5
Pembengkakan Kelenjar Air Susu 3x5
Hepatitis B dan C 3x5
Gagal Ginjal (Hemodialisa 1-2 X per Minggu) 3x5
Wasir Kambuhan (disertai darah) 3x5
Penyakit Sedang Miom > 5 cm (kambuhan) 3x8
Segala Jenis Tumor Jinak (> 7 cm) 3x8
Kanker Payudara Stadium I-II 3x8
Kanker Pankreas Stadium I-IIA 3x8
Kategori Keluhan Dosis
Penyakit Sedang Berat Kanker Payudara Stadium III 3x10
Tumor/Kanker Otak Stadium I-III 3x10
Kanker Kulit Stadium III B-IV A 3x10
Kanker Hati 3x10
Penyakit Berat Kanker Payudara Stadium IV 4x10
Tumor/Kanker Otak Stadium IV 4x10
Kanker Prostat Stadikum Lanjut 4x10
Khusus Penyakit Pada Anak-anak < 3 tahun 3x2
>3 tahun 3x3
6-12 tahun 3x5
Pencegahan Anak-anak 1-2
Dewasa 2-4
Makanan yang sebaiknya di kurangi :
  • Segala jenis daging-dagingan (ayam, sapi, kambing,dll).
  • Segala jenis ikan-ikanan (ikan air tawar/laut).
  • Makanan berlemak tinggi, vetsin / MSG.
  • Makanan mengandung pengawet (mie instant, makanan / minuman kaleng), makanan pedas-pedas.
  • Semua kuning telur, tape (yang mengandung ragi).
  • Anggur, Durian, Nanas, Nangka, Lengkeng dan Salak.
  • Susu Full Cream / mengandung lemak tinggi.
  • Sayuran : Tauge, Kangkung, Sawi putih, Lobak Putih dan Cabe Rawit.
Makanan yang dianjurkan
  • Buah-buahan, sayur-sayuran.
  • Kacang hijau, tempe / tahu yang tidak mengandung bahan pengawet.
  • Air putih kualitas baik, minimal 10 gelas/hari.
  • Susu kacang kedelai tawar / low fat.

Penghargaan dari Indonesia Biology Journey

Kembali ke alam atau back to nature adalah semboyan yang sering digunakan belakangan ini. Obat herbal diproduksi menggunakan bahan-bahan alami yang bebas dari efek samping. Obat-obatan yang berasal dari alamdisebut dengan obat herbal, pengobatan ini sudah ada sejak berabad-abad yang lalu dan digunakan para nenek moyang kita sebagai pengobatan tradisional untuk mengobati penyakit. Obat herbal juga bisa digunakan untuk lebih dari satu penyakit, bukan hanya itu obat herbal juga berfungsi menghilangkan penyakit hingga ke akar penyebarannya. Hal ini dikarenakan efek dari obat herbal bersifat holistik (menyeluruh) sehingga tidak terfokus pada penghilangan penyakit tetapi dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit.

Obat herbal tidak ada efek samping, hal ini dikarenakan obat herbal terbuat dari bahan-bahan organik yang komplek. Obat herbal dapat kita anggap sebagai makanan yang kita makan, yang dikonsumsi guna untuk memperbaiki sistem organ tubuh yang rusak. Obat herbal harus digunakan dengan dosis yang tepat karena kelebihan obat herbal juga sama seperti halnya kelebihan makanan yang kita komsumsi. Khasiat obat herbal terutama obat herbal terstandar dan fitofarmaka dapat dibuktikan dari hasil penelitian baik uji klinis maupun uji pra klinis. Mungkin orang-orang bertanya mengapa obat herbal tidak ada efek sampingnya, karena obat herbal dibuat dari tumbuh-tumbuhan dari alam. Di zaman sekarang banyak tumbuhan bahan baku obat herbal dibudidayakan, tetapi ada juga tanaman obat herbal yang benar-benar diambil dari alam liar yang belum terkena polusi bahkan tempatnya sulit untuk dijamah manusia. Menurut Badan POM obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah distandarisasi. Bahan baku dan proses produksinya juga harus memenuhi proses pengujian di laboratorium yang meliputi uji khasiat dan uji keamanan. Uji khasiat dilakukan terhadap hewan uji yang secara fisiologis dan anatomi yang dianggap hampir sama dengan manusia. Sedangkan uji keamanan dilakukan untuk mengetahui ada toksik atau tidak, uji keamanan dilakukan uji toksisitas akut, uji toksisistas subkronis atau jika diperlukan uji toksisitas kronis. Dari pengujian praklinik tersebut akan diketahui mengenai khasiat bahan tersebut, dosis yang tepat untuk terapi, keamanan dan efek ssssamping yang mungkin timbul. Fitofarmaka adalah tingkatan tertinggi untuk obat herbal. Obat tersebut telah diuji secara klinis (pengujian terhadap manusia).

Obat herbal merupakan pengobatan jangka panjang, reaksi obat herbal memang tidak instan dibandingkan dengan obat-obatan kimia. Dr Nangkan Putu dalam artikel Seputar Dunia Herbal mengatakan bahwa “obat herbal akan memperbaiki gangguan hemodinamika di dalam tubuh kita, ketika tubuh terserang suatu penyakit berarti ada bagian yang kacau dan perlu diperbaiki kembali”. Obat herbal akan membantu untuk mengembalikan keseimbangan meski efek yang dirasakan tidak langsung oleh sebab itu, penggunaan obat herbal membutuhkan waktu yang lama.